Perwujudan Seorang Yeni Widayati menjadi Khaaifa Yeni


Kau tahu, puing-puing cinta yang kau pungut itu pasti akan bersatu dalam bingkai yang lebih abadi. Bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat kelak, jika kau mengawalinya dengan kesabaran dan keikhlasan. Yakinlah, setiap takdir dalam wujud apapun adalah karunia terbaik yang akan menghantarmu menjadi manusia yang tangguh. Bukankah semua yang terjadi ini telah diperhitungkan-Nya. Lantas, jangan pernah kau sesali nasi yang telah menjadi bubur itu. Kini saatnya kau kreasikan bubur itu dengan kerupuk, bawang goreng, garam dan bahan pelengkap lainnya agar rasanya menjadi nikmat. 
Ya.. seperti saat kau merasa terpuruk karena jatuh dalam lubang yang menyakitkan, jangan malah kau perparah dengan kegalauan. Tapi ubah dengan semangat pembaharuan, jadikan orang-orang disekelilingmu adalah motivasi terbesarmu untuk bangkit. Anggap saja mereka adalah kerupuk, bawang goreng, garam dan bahan pelengkap lainnya yang hadir untuk menjadi pelengkap hidupmu, yang mampu menjadikanmu seorang pembelajar, seorang yang tangguh dan seseorang yang tabah dalammenghadapi setiap siklus kehidupan (Khaaifa Yeni, 2016) hehe.

Berawal dari tahun 2010 silam. Siapa sangka akhirnya seperti ini. Sebuah ujian yang tak bisa ku tapis bahkan tak pantas jua aku menolaknya. Karena aku sadar atas peristiwa itu, aku menjadi Khaaifa Yeni atas izin-Nya. Sederhana saja menjalani hidup, penuhi hati dengan kesyukuran seberat apapun ujian pasti akan terasa ringan. Bak bubur, aku pun mulai banyak belajar dari kerupuk, bawang goreng, garam, dan bahan pelengkap lainnya. Mereka adalah orang tua, keluarga, sahabat hingga orang yang tak menyukaiku (hehe memang ada ya? Ntah lah...).
Seperti keaktifan ku saat ini yang menjadi organisatoris dan penulis. Ia tumbuh dan berkembang atas sentuhan kasih keluargaku.

Pernah terpikir olehku, bahwa 99% pemikiran kita akan merubah kehidupan kita. Dan semua didukung oleh suhu positif orang-orang terdekat kita.
Begini ceritanya:
Dulu saat aku masih SD, nenek selalu menceritakan kiprah paklek Edi Edison yang aktif di berbagai organisasi. Selain itu juga menggeluti tapak suci dan kepenulisan.
Akhirnya pun saat masuk SMP aku teringat kisah nenek tentang paklek. Aku pun mengikuti tapak suci meski hanya beberapa bulan saja.
Setelahnya, paklek menyarankanku untuk ikut KIR. Ikutlah aku KIR dan disinilah aku bertahan serta berhasil membungkus passion disini. 
Nah ketika SMA, karena gak tertarik untuk ikut OSIS akhirnya kuputuskan untuk mengikuti paduan suara. Tergabunglah aku disana yah pernah tampil sekali saat Menteri Agama meresmikan ma’had yang ada di sekolahku kala itu. Terus berhenti karena merasa suara jelek. hihi
Hmm.. karena tidak mengikuti IPM atau OSIS di SMP dan SMA, aku jadi gak paham masalah organisasi bahkan tak berjiwa pemimpin.
Lalu, di menara kampus lah, aku mendesain piramida organisasi. Ikut ini, ikut itu yang akhirnya menemukanku pada rumah pena, Lso Cendekia Fkip-umm. Disinilah aku mulai senang belajar menulis, berorganisasi, leadership, relationship, entrepreneurship, dll bersama teman-teman yang sesuhu tentunya. Nama Khaaifa Yeni pun teresmikan di tahun 2013 saat mengikuti event kepenulisan puisi Nasional oleh Penerbit Minor yaitu Penerbit Asrifa. Hehe.

Kini diujung menara kampus, aku mulai aktif di ortom Muhammadiyah yakni di Nasyiatul Aisyiyah Bumiaji. 
Untuk menjadi seorang aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah, aku belajar dari bulek Indra Kusumaningsih. Beliau adalah Ketua PDNA Kota Batu saat ini yang menjadi inspirator pergerakanku di NA. 
Kepemimpinannya, ketulusannya, kasih sayangnya, toleransinya, kekreativannya, intelektualitasnya dan banyak hal darinya yang bisa ku petik untuk ku nikmati buahnya.


Keduanya, paklek dan bulek sangat berperan dalam membangun karakter seorang Khaaifa Yeni. 
Bagiku, semua ini adalah keberkahan yang luar biasa. Dimana saat nenek dengan lembut menceritakan pengalaman paklek kepadaku, tanpa disadari aku pun mengikuti jejaknya meski tak sempurna karena langkahku yang kurang tegas mengukirnya. 
Yang perlu diingat adalah energi positif akan muncul dalam medan positif pula dan sebaliknya. Seperti halnya saat aku bertandang dalam NA. Tentunya aku akan mencari medan positif itu pada aktivis NA juga yang tak lain adalah bulek Indra. 
Yah... kalau dipikir-pikir semangatku yang patah di tahun 2010 mah sepertinya gak mungkin bisa menjadikanku seperti ini. Namun, karena mereka yang menyayangiku selalu mensupportku, Allah membebaskanku dari kesedihan yang tiada akhir. Kini hari-hariku pun penuh warna dengan cinta dan cita.

Komentar

Postingan Populer