Percaya Diri Bila Bersama-Nya
“Orang yang percaya diri bukanlah orang yang yakin pada
kemampuannya, tapi orang yang yakin bahwa Allah bersamanya” dr. Gamal Albinsaid.
...
Ngomong-ngomong tentang percaya diri, ada sedikit
kisah yang mengesankan di tahun 2016.
...
13 Juni 2016.
...
13 Juni 2016.
Pada hari ini, aku diberi kesempatan oleh-Nya untuk
menjadi panitia Pengkaderan Bersama AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) Bumiaji
yang berlangsung di SMP Muhammadiyah 2 Sidomulyo Kota Batu. Target dari peserta
Pengkaderan Bersama atau yang lebih dikenal dengan Darul Arqam bagi siswa-siswi
Muhammadiyah adalah siswa-siswi kelas 7 dan 8 SMP Muhammadiyah 2 Sidomulyo Kota
Batu. Bertajuk “Mengejar Status Kader Relegius” menjadi anak panah AMM untuk
melekatkan karakter muslim dan meningkatkan predikat takwa dalam diri kader
sekaligus mengorientasikan ortom Muhammadiyah kepada siswa-siswinya. Sehingga,
siswa-siswi Muhammadiyah bukan hanya mengenal IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah)
namun juga Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah sebagai organisasi muda
Muhammadiyah yang memberikan ruang gerak bagi siswa untuk menempa diri dan
tumbuh menjadi yang mereka “mau”.
...
Pada hari ini lah, pertama kalinya aku bekerjasama
dengan beragam usia, mulai dari SMA hingga dewasa. Tak perduli masih SMA atau
baru aktif dalam ortom, teman-teman AMM melebur dalam bingkai ukhuwah fillah.
Bersatu padu menjalin ukhuwah di dalam ortom Muhammadiyah J *menukil sedikit syair
IPM yang akhirnya sedikit meleset hehe.
Disini, aku menemukan banyak teman baru dan itu
membuatku harus memberanikan diri untuk bergaul dengan mereka, berusaha mengimbangi
bahasa dan gaya mereka namun tak sampai terwarnai. Itulah yang biasa kulakukan
ketika berada di lingkungan baru.
...
Kala itu, aku tak sempat berperan aktif pada agenda
pembukaan hingga waktu Dzuhur dikarenakan aktivitas di kampus. Ba’dha Dzuhur, saat
aku menginjakkan kaki di halaman SMP Muhammadiyah 2, kulihat beberapa panitia
dan SC tengah berada di dalam kantor guru. Aku pun melangkahkan kaki kesana dan
ternyata terdapat sedikit perubahan jadwal untuk hari kedua dan ketiga Darul
Arqam. Setelah itu, ada salah satu teman yang mengingatkanku tentang jadwalku
sore ini, yang tak lain adalah mengikuti talkshow on air di kantor ATV Kota
Batu. Dalam sekejap aku pun berkeringat dingin, pikirku pun bergelantung tanya “Apa
aku bisa? Apakah aku sudah siap?”.
...
Ya, aku diminta tolong paklek yang kebetulan
Sekretaris Cabang Muhammadiyah Bumiaji untuk menggantikan beliau menjadi pemateri
talkshow on air di ATV, karena beliau harus ke Surabaya hari ini. “Ah... ntah lah,
dari kemarin diminta tolong dan jawabnya pun sedikit ragu”. Namun paklek selalu
meyakinkanku bahwa AKU BISA. Karena sudah terdaftar, jadi gak bisa diganti
dengan orang lain lagi katanya. Hmmm..
...
Selain aku, pemateri lain adalah Bpk. Miftahul Huda
(Ketua Cabang Muhammadiyah Bumiaji) dan Faris (mewakili Divisi Budaya
Muhammadiyah Bumiaji sekaligus Pemuda Muhammadiyah Bumiaji). Tema Talkshow kali
ini adalah Dakwah Kultural.
...
Sepanjang perjalanan menuju Balaikota Among Tani
Kota Batu, aku masih sempat-sempatnya googling untuk menyiapkan materi. Ya, maklum baru googling karena baru kemarin
sore dikasih tahu dan itu pun waktu tersisa yang ku punya belum kumanfaatkan untuk
meyiapkan materi.
Search : Dakwah Kultural
Muncullah ini dan itu.. panjang sekali.
“Mengahafalnya pun tak mungkin hihi. Membacanya pun tak serius. Bagaimana
nanti? Apa yang mau aku sampaikan?” desisku.
...
Setibanya disana, aku sedikit ragu. Kutelepon
paklek, “kantor ATV sebelah mana?”
(bla.. bla.. bla..) jawabnya.
“Ngapunten, Yeni ndak siap. Ganti orang lain saja
nggeh? gerutuku.
“Loh.. sudah tinggal beberapa menit lagi, sudah...
kamu PASTI BISA”
“Ndak bisa paklek.... Coba minta tolong Dilla saja
lebih bisa cakap ngomongnya”
“Sudah lah... kamu lebih siap daripada yang lainnya.
Nanti jelaskan saja kegiatan dakwah yang pernah dilakukan PCNA Bumiaji. Dibawa
santai kayak ngobrol biasa”
“Hmm.. nggeh” dengan ragu aku pun belajar menerima
amanah ini.
...
Teringat kata sahabat Rizka Mahargian, “Orang
sukses itu berani dan mandiri”
Teringat lagi suplemen dr Gamal Albinsaid untuk
semesta, “Orang yang percaya diri bukanlah orang yang yakin pada kemampuannya,
tapi orang yang yakin bahwa Allah bersamanya”.
...
‘Pukkk...’ tepukkan dek Wati membuyarkan lamunanku.
“Mbak tak tinggal dulu ya, sudah kuantar sampai
sini. Nanti sampean pulangnya jam berapa kabari saja, biar tak jemput”
terangnya tulus.
Walah... aku memang gak bisa mengendarai sepeda
motor, jadilah harus merepotkan adik terbaik ini. *Wati Pengurus Cabang
Nasyiatul ‘Aisyiyah Bumiaji yang usianya paling muda dan juga berpartisipasi
aktif dalam kepanitiaan Darul Arqam.
“Terimakasih dik” senyumku mengembang.
...
Tangga demi tangga kulewati dan sampailah aku di
depan pintu kantor ATV. Terlihat pak Miftah dan Faris sudah ngobrol-ngobrol
dengan mbak Rahma (Pengurus PDNA Kota Batu yang bekerja di ATV).
“10 Menit lagi ya? Kata mbak Rahma.
Kuanggukkan kepala.
“Ini persiapannya, gak pakai di make up dulu?” tanya pak Miftah (sambil tersenyum simpul).
“Monggo pak, kalau mau” ujar mbak Rahma.
“Yah... kalau laki-laki dandannya cuman sisir dan
pakai gel rambut saja kok” sahut pak Miftah.
Aku pun ikut ke ruang make up. Lah, banyak sekali
peralatan make upnya. Waktu itu aku cukup ingin pakai lipstick saja biar gak
terlalu kering (maklum lagi puasa). Saat hendak memakai lipstick, aku bingung
pilih yang warna apa? Gak biasa dandan dan gak biasa pakai lipstick.
...
“Warna yang cocok apa ya? Yang gak terlalu merah
merona?” terka batinku. Karena malu dan takut salah, aku pun menemui mbak
Rahma.
“Mbak tolong pilihkan warna lipstick untukku ya?”
bisikku ke telinganya.
Mbak Rahma tersenyum..
Saat sudah dipilihkan, ku bilang lagi, “Maaf mbak,
bisa minta tolong dipakaikan?” wajahku memerah bak udang rebus.
“Ya, sini.. “ ujarnya senang.
...
Lalu aku berkaca, kok warnanya tebal banget ya? Kuusap
dengan tissue pelan-pelan untuk menipiskan warnanya.
...
-Camera, Rolling, Action-
Segmen pertama, kedua dan ketiga diisi oleh pak
Miftah, Faris dan mbak Novel (presenter ATV).
(bla... bla.. bla...)
Tiba-tiba ada SMS dari paklek.
“Yeni gak jadi siaran di ATV?”
Kubalas pesannya: “Jadi paklek, di segmen terakhir
hehe”
....
Ssssttt... Segmen terakhir, ada sedikit instruksi
dari mbak Novel.
Bergantilah posisi, di segmen terakhir ada pak
Miftah, mbak Novel dan aku.
...
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan mbak Novel
kepadaku. Sebelum menjawab, pikirku selalu mengingatkan: “Ini on air loh Yen...!
Jangan sampai bilang kata “a.... “ atau gugup. Biasa saja... santai, ingat Allah
bersamamu. Ingat juga orang-orang yang selalu mendukungmu, KAMU PASTI BISA.
Jangan sia-siakan karunia Allah ini. Jangan kecewakan orang tua, paklek, bulek,
dan teman-teman”.
...
Aku pun menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan
lancar meski terlihat masih gugup menurutku. Diakhir, aku mulai kehabisan
kata-kata. Saat diminta untuk menyampaikan pesan untuk pemirsa ATV, aku pun
memulai dengan kata “Baik, pemirsa ATV di tanah air (bla... bla...
bla...)”.
Siaran pun usai.
...
Aku pun mengulang-ulang kalimat awal tentang pesan
yang kusampaikan di dalam hatis. “Baik, pemirsa ATV di tanah air” hmm.. kok
pemirsa ATV di tanah air. Bukannya ATV itu stasiun lokal ya? Astaghfirullah... semoga
tidak memalukan.
...
Kembalilah aku ke SMP Muhammadiyah 2 untuk
menunaikan amanah sebagai panitia Darul Arqam. Tiba-tiba, Dilla bilang,
“Sampean tahu, tadi kami lihat siaran sampean. Sampai-sampai gak konsentrasi
menuangkan takjil”. Hmmm... alay mode on nih anak hehe. Tapi makasih dah,
sedikit pujian itu terkadang meyejukkan seperti udara. Yang dengan cepat udara
itu juga akan hilang terbawa angin. Jadi biasa saja menanggapi pujian dan
kembalikan saja hanya pada Allah “Alhamdulillah, Astaghfirullah...”. Namun,
saat salah menempatkan.... pujian akan menjadi api kesombongan. Kau pun akan
terbakar olehnya. Naudzubillah..
“Apa yang bisa disombongkan dari kita?”
#Manusia_berlumur_dosa
-----------TAMAT-------------
....
Silahkan tertawa dengan kisah ini sebelum tertawa
itu dilarang hehe..
Silahkan menganggap tulisan ini lebay,
mendramatisir atau apalah..
Yang jelas ini adalah kisah nyata..
Yang jelas disini.. saya hanya ingin berbagi kisah
dan pengalaman pertama saya saat Talkshow on air di stasiun televisi.. (Yah,
saya siapa atuh... bukan ustadzah. Ilmunya masih sebiji padi. Belum pernah
mengisi kajian disana - sini).
Dan yang jelas saya hanya ingin menerangkan bahwa
keraguan itu bisa dienyahkan saat kita meyakini benar keberadaan Allah dalam
hidup kita.
Dalam kondisi sesulit apapun, dalam kondisi bahagia
sekali pun, Allah akan senantiasa memberikan pertolongan dan karunia terbaik-Nya
untuk kita. *Bahagia itu sekali ya? (hehe bercanda)
...
Dibalik ketidakmampuan kita ada Allah yang selalu
mendukung kita, membantu kita.
...
So, jangan pernah sekali-kali meragukan keberadaan
Allah, Sang Maha Pencipta segalanya.
....
Mohon maaf atas segala khilaf...
Mohon maaf untuk yang sudah ke tag.
Teruntuk,
Kedua orang tua saya yang senantiasa memberikan
kasih dan sayangnya..
Paklek dan bulek yang turut andil dalam membangun
karakter baik dalam pribadi saya..
Sahabat dan teman-teman saya Rizka yang begitu
sabar menghadapi ke-alay-an saya..
Mbak rahma yang sudah memberikan ilmu peformadan
retorikanya...
Terimakasih dan terimakasih kepada orang-orang yang
telah hadir dalam kehidupan saya, yang melukiskan warna-warni pelangi yang
begitu menawan. Terakhir, semoga ukhuwah kita terbina hingga jannah-Nya.
Dibawah pendar langit jingga,
Seseorang yang fakir ilmu...
@Khaaifa Yeni.


Komentar
Posting Komentar