Sajak Daun untuk Mawar Belia
Malam bertabur bintang gemintang
Cahaya rembulan menerkam kesepian
Membalut gelap dalam diam
Menabur endapan rindu dalam larutan kasih sayang
Wajah langit kian legam
Hitam lekat menyisir keceriaan
Dawai kerinduan kian menjulang
Melelehkan hati, mengundang rintik-rintik kesedihan
Tuhan, ujian ini sungguh memilukan
Tak sanggup aku membawa amanah yang telah Engkau titipkan
padaku, setangkai mawar belia dengan duri belatinya
menyayat siapa saja yang menyentuhnya
lembut maupun kasar tak ada beda baginya
bahkan aku, daun yang memberi nutrisi untuknya
Tuhan, aku sadar…
Harusnya aku tetap berdiri tegar, lekat pada tangkainya
Meski durinya merobek daun hijau yang kupunya
Nuraniku harus mengikhlaskannya
Demi mengikis luapan egonya
Dan terpancarlah senyum polosnya
Ah.. aku harus memaklumi tingkahnya
Mawar belia yang lapar akan klorofilku
Gesekan duri yang menyentuh tubuhku
Bukan pertanda ia membenciku
Ini adalah isyarat yang diberikan Tuhan
Agar aku meninggikan kesabaran
Laksana kesabaran langit akan sengatan matahari
yang membuat gambaran pagi, siang dan sore menjadi berarti
Ya, aku harus bisa mengerti perangainya
Untuk ku pelajari hikmahnya
Karena Tuhan telah menganugerahkan
Mawar belia yang harus kujaga
Meski sejelek apa pun wataknya
Ia adalah adik yang ku cinta
Ibu ku haturkan sajak ini sesuai pintamu
Aku hanyalah daun yang tak kan menjalar tanpa butiran kasih dan sayangmu
Kini ‘kan ku hapus tangisan macapat yang mendermaga dalam sanubari
Mencoba menghidangkan syair-syair keceriaan dalam rintihan hati
Agar aku mampu bersabar dan mengikhlaskan segala polah yang adik beri
Teruntuk dia, adikku yang ku sayangi
Ku mohon jangan nakal lagi


Komentar
Posting Komentar