PENGAKUAN CINTA
Bersama angin, ku tebarkan semerbak wewangian mawar merah merona.
Menyelinap, memasuki bilik-bilik hati yang beku. Hingga tak ada lagi kekakuan
maupun kekerasan. Kini, semua tersulap menjadi kain sutera. Pintu-pintu hati
yang kasar sirna seketika. Begitu dahsyat aroma mawar, melembutkan kasih,
merajut merah jambu, bahkan jantung lebih giat memompa aliran darah yang
terengah-engah. Ya… akulah cinta, yang telah memberi hidupmu warna ceria, tak
lagi duka dan lara. Cobalah kau mendekapku, kesedihan akan sirna. Cobalah kau
sambut aku dengan bahagia, maka alam akan menggandengmu menuju puncak gunung
yang menghijau cemara.
***
Kini telah banyak
kulabuhkan jantungku pada seseorang yang belum halal bagimu. Dengan mudah aku
terbawa angin dan hinggap di pohon apel, sesekali melayang dan jatuhlah aku di
lingkaran mahkota mawar berduri, namun tiba-tiba pula menjulang tinggi
mendekati bintang. Begitu tak teguh pendirianku. Bagai air mengalir yang tenang
terbawa arus hingga tak sadar bahwa aku telah berada di kubangan air yang
kotor. Sangat kotor… Tak beranjakkah kamu? Bangkitlah, segera berdiri dan
berlari menggapai mulia yang telas dituliskan-Nya untukmu. Maafkan aku, karena
aku hanya menunaikan tugasku, karena aku tak bisa menolak angin yang kau
hembuskan itu.
Aku tak berupa
namun aku bernyawa di dalam qalbumu. Cobalah jernihkan qalbumu agar aku tak
jatuh di dasar hati yang tak halal bagimu, agar aku menjadi super power dalam hidupmu, bukan yang
membuatmu galau akan kepalsuan penantianmu.
Akulah cinta,
bukan salahku jika kamu berdendang seloka, menari-nari ke kanan dan ke kiri.
Cobalah merenung. Siapakah yang memekarkanku? Siapakah yang mengembangkannya?
Aku tak ingin kau bersedih karenaku. Segeralah kau lepaskanku menjadi bulu-bulu
yang berterbangan di langit sana. Ikatlah aku ketika Tuhan telah menetapkan
waktu yang tepat untuk kau berbagi rasa indahmu dalam bahtera yang penuh dengan
ridha-Nya. Sakinnah mawaddah wa rahmah. J


Komentar
Posting Komentar