Hujan, Kawan atau Lawan?
Malam
ini, hujan mengguyur area kampusku
Tak
seperti butiran keberkahan di hari-hari kemarin
Tatkala
musim hujan datang
Butiran
hujan malam ini, begitu rapat menutup jalanan
Membekukan
langkahku
Mengkristalkan
tekadku untuk pulang
Ku telepon ayah untuk
menjemputku pulang
Bersama sepeda tuanya ia
menapaki jalan
Melewati
tikungan-tikungan panjang
Menerobos hujan yang
tengah menyerang bumi Tuhan
Ah,
hujan…
Kala
ini kehadiranmu seperti yang tak ku rindukan
Untuk
membasuh semua pilu dan kegundahan
Di
saat benih-benih kerinduanku akan kasih sayang Tuhan
Ah, hujan…
Kenapa kau hadir di saat
yang tak ku inginkan
Tidakkah kau lihat
siluet gagah dengan sepeda tuanya
Yang ikhlas kau balut
dengan kebeninganmu?
Serasa semua menjadi
sebuah ladang untuk kau siram
Lihatlah
hujan…
Bajunya
mulai basah kuyup
Tubuhnya
penuh getaran kedinginan
Tak
kasihan kah engkau padanya?
Ah, hujan..
Kau telah merampas
senyumku tatkala dia datang
Menimbulkan genangan
dalam kekhawatiran
Akan kesehatan ayah saat
kau guyur tak berukuran
Basah
bajunya tak dihiraukan
Dia
datang dengan wajah yang terang
Layaknya
pelangi yang menceriakan
Putih
hatinya melambangkan bahwa kau tak menyakitkan
Baginya
kau adalah karunia Tuhan
Yang
meneduhkan dan menenteramkan
Aku heran…
Mengapa kau yang begitu
kejam menyerang
Menjadi penyejuk alam
Bahkan tumbuhan-tumbuhan
bertasbih atas kehadiranmu
Petani-petani bersujud
syukur karenamu
Kau
adalah malaikat bagi alam
Ketika
bumi kering dan gersang
Kau
adalah ibu yang didambakan kehidupan
Ketika
sungai-sungai tak lagi mengalirkan kasih dan sayang
Ya,
aku telah salah menilaimu
Wahai hujan, maafkan aku
Karena egoku telah
menutup kebeningan jiwamu
Untuk menyegarkan alam
saat bumi kehausan
Kini, aku tersadar bahwa
kau bukanlah lawan
tapi kawan bagi kehidupan
tapi kawan bagi kehidupan
Dibawah
langit legam, hujan bermekaran
Batu, 28 November 2014


Komentar
Posting Komentar