TINTA KEBERKAHAN
Malam berhiaskan cahaya. Sinar bulan
membiaskan senyuman penuh suka cita. Bertabur benih kerinduan kepada tinta yang
mulai mengering. Hatipun tergugah untuk menyelesaikan tugas membuat resensi
buku “Outdoor Learning” yang
diberikan oleh bapak Husamah, Dosen Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran. Lalu
aku ambil buku “Outdoor Learning” di
dalam lemariku.
Jari jemariku mulai menari-nari
diatas keyboard laptopku. Merajut pecahan
kata menjadi sebuah alinea padat yang bermakna. Sungguh, hal yang luar biasa
dan tidak terduga. Dalam waktu kurang dari satu jam, tulisanku telah siap
diprint. Padahal, aku belum pernah membaca buku itu dan resensi ini adalah
resensi pertama yang aku buat selama masa kuliah. Bahkan aku tercengang dengan
sang merah saga yang membakar jiwa yang mampu mendorong otakku berpikir cerdas
untuk menyelesaikannya. Bukan karena terobsesi mendapatkan nilai A. Namun, aku berharap
kepada bapak Husamah untuk membaca serta memberikan komentar terhadap resensi
yang aku buat dalam sekejap mata.
…
Pagi yang cerah
menyambar hatiku. Ayunan langkah yang biasanya tertatih, kini seirama dengan
merekahnya mawar dalam jiwa. Tepat pada pukul 07.00 WIB, aku telah berada
didalam kelas menanti dosen idolaku yaitu bapak Husamah, sang motivator dan
inspirator setiaku. Bersyukurlah aku memiliki dosen seperti beliau.
“Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Mohon maaf sebelumnya, mohon disampaikan ke teman-teman, kalau saya hari ini
tidak bisa mengajar dikarenakan masih ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan.
Silahkan tugas resensinya dikumpulkan dan disimpan di loker saya di kantor
jurusan. Terimakasih” kata Hafidz membacakan sms dari bapak Husamah.
Wajah yang semula
memancarkan pelangi, berwarna-warni, kini berubah menjadi abu-abu. Pecahlah
bingkai harapan ini. “Kenapa Nis? Jelek banget wajahmu” ejek Rizka yang
berniatan menghibur. “Kalau aku jelek berarti kamu juga jelek. Bukankah sahabat
kita adalah cerminan diri kita ya?” balasku. Kami pun tertawa lepas.
Satu per satu teman
kami keluar dari dalam kelas dan pulang ke rumah masing-masing. Aku dan Nisa
adalah anak yang terakhir keluar dari kelas. Kamipun pergi menuju taman perpustakaan.
Di taman perpustakaan, kami biasa menghidupkan laptop dan internetan gratis
karena fasilitas kampus yang memadai yakni memakai hotspot. Meski kami selalu
bersama, kami memiliki hobby yang
berbeda. Rizka kelihatan sedang asyik mengotak-atik laptopnya untuk mendownload
video naruto. Sedangkan aku, lebih senang mencari info-info lomba kepenulisan daripada
menjadi kolektor video kartun.
Terlintas dalam benakku
untuk membuka akun g-mailku. Mulailah aku mengirimkan naskah resensi buku “Outdoor Learning” ke e-mail Bestari
koran kampus. Sekedar iseng saja, karena resensi yang telah aku buat belum
ditanggapi oleh Bapak Husamah secara langsung. “Ah, apa salahnya dicoba.
Dikirim sajalah, pasti juga tidak akan dimuat. Buatnya juga asal-asalan, hanya
dalam waktu kurang dari satu jam” batinku.
Klik. Tiba-tiba jari
telunjukku mengklik icon kirim.
Terkirimlah e-mailku yang berisi naskah resensi ke e-mail Bestari. Setelah lama
asyik mengotak-atik laptop, kamipun pulang.
Beberapa minggu
kemudian, aku mendapat sms dari mbak Irma, kakak tingkat jurusan Bahasa
Indonesia yang pandai menorehkan tinta. “Subhanallah. Selamat ya dik, resensinya
dimuat di Bestari” ucapan selamat dari mbak Irma yang aku baca di inbox hpku. “Apa
maksudnya, mbak? Anisa tidak mengerti” balasku. Aku tunggu kejelasan sms dari
mbak Irma. Namun, hpku tidak berdering sama sekali. Tidak ada balasan darinya.
Akupun mulai teringat.
“Oh iya, aku kan pernah mengirimkan resensi yang berjudul Menciptakan Cara
Belajar yang Asyik dan Menyenangkan ke e-mail Bestari. Jangan-jangan yang
dimaksud mbak Irma itu...” pikirku dengan mata bercampur haru. Tidak menunggu
lama, aku pergi ke kampus mencari kebenarannya dan mengambil koran kampus di
kantor Bestari.
“Bismillahirrahmanirrahim”
do’aku dalam hati. Aku baca lembar demi lembar untaian kata koran kampus edisi
bulan Juli 2013. “Alhamdulillah. Allahu Akbar. Terimakasih Ya Rabb” puji
syukurku atas rahmat dan karunia yang diberikan-Nya kepadaku. Resensi karyaku
nyata dimuat di Bestari. Inilah keberkahan tinta yang tidak disangka-sangka.
Berawal dari tugas menjadikan karyaku bermanfaat untuk diriku dan orang lain. Dari
sinilah aku mulai menyadari bahwa aku sangat dekat dengan pena dan tinta akan
senantiasa menjadi sahabat setiaku dikala suka dan duka.


Komentar
Posting Komentar