Rindu Tiada Bertepi




                              
            Sore itu, hujan mengguyur kawasan tempat tinggalku, angin berhembus kencang merasuk hingga tulang rusukku, kilat dan petir menyilaukan pandangan mataku sampai membuat tangis qalbuku. Tak henti-hentinya aku memanggil-manggilnya di atas kasur empuk dengan kain halus bergambar Doraemon yang membungkus badanku.
            “Bunda… bunda… bunda… Aku takut. Bunda jangan tinggalkan aku. Suara itu, sangat menakutkan Bunda. Bunda dimana?” Kigau Nisa’. Sang Bunda yang berbaring disampingnya, mendekap hangat badan Nisa’ serambi berkata “Sayang… Bunda ada disini. Tenanglah sayang, Bunda tak akan meninggalkanmu. Hujannya akan segera reda”. Dekapan hangat Bunda membuatnya tak lagi merasa ketakutan. Gadis berumur 5 tahun itu mulai hanyut dalam mimpinya. Melihatnya, sang Bunda lalu beranjak dari kasur empuk tersebut. Beliau hendak memasak kue kesukaan Nisa’ “Pan cake Doraemon” (panggilan untuk kue kesukaan Nisa’ karena Nisa’ sangat menyukai kartun Doraemon).
“Ehmtz, baunya enak.. pan cake doraemon. Yeah..!!!” kata Nisa’ dalam hati. Bergegaslah dia menuju ke dapur. Hidungnya mengendus-endus, tangannya mulai gatal, matanya terbelalak, lidahnya mengelamuti bibirnya. Huppp,, tangan Nisa’ mulai mengambil satu kue pan cake doraemon yang ada di atas meja dapur. “Nyam.. nyam.. nyam.. enaknya??” Celoteh Nisa’. Sang Bunda memutar badannya menghadap ke meja dapur setelah merapikan perabotan dapur yang usai dipakai membuat pan cake doraemon. (Kaget) “Eitz,,, sayang.. bangun tidur belum cuci muka kok sudah makan kue? Makannya sambil berdiri pula. Ayo segera mandi dulu ya sayang. Bunda sudah menyiapkan air hangatnya di bak mandi” Kata Bunda (tangannya memegang kedua pundak Nisa’). “Astaghfirullah,, upz.. maafkan Nisa’ ya Bunda. Nisa’ lupa hehehe” Kata Nisa’ lugu. Lalu segeralah Nisa’ membersihkan badannya.
***
Allahu akbar… Allahu akbar… Laillaha illallah. Gema Cinta Sang Ilahi Rabby menggetarkan hati Nisa’. Nisa’ yang telah anggun, harum dan rapi dengan mengenakan busana muslim dan jilbab berwarna pink menghampiri bunda dan ayahnya yang sedang duduk santai di ruang tengah kala menonton tv. “Ayah, Bunda, ayo sholat. Sudah adzan maghrib nha?” Kata Nisa’. “Iya sayang, Nisa’ sudah wudhu? Ayo wudhu dulu ya, anak ayah yang cantik?” Tanya Sang Ayah. “Sudah dong yah, Nisa’ kan mau dapat pahala yang banyak,, banyak,, banyak,,” Jawab Nisa’ semangat. “Iya.. iya.. Anak Bunda ini memang paling rajin sholatnya. Ya sudah sayang, Nisa’ tunggu di tempat sholat ya? Ayah dan Bunda mau ambil air wudhu terlebih dahulu” Sahut Bunda. “Ok Bunda” Kata Nisa’ kemayu.
Setelah berwudhu, Ayah, Bunda, dan Nisa’ tampak khusyuk mendirikan sholat maghrib di tempat sholat disamping kanan kamar tidur Nisa’. Terlihat Nisa’ clingak-clinguk melihat Ayah dan Bundanya dengan pelan tapi pasti menirukan setiap gerakan sholat Ayah dan Bundanya. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” kata sang ayah, tanda usailah sholat maghrib dilanjutkan dengan berdo’a ketika berdo’a Nisa’ amat tenang sekali, kelopak matanya tertutup dan lantang suaranya melantunkan do’a untuk ayah dan ibunya dengan irama lagu yang sering diajarkan oleh Ustadzahnya disekolah. “Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa ayah dan bundaku, kasihanilah mereka seperti mengasihi di waktu kecil”.
“Amiin”. Serentak siswa-siswi KB/TK Al-Izzah. Kata penghujung do’a itu membuyarkan lamunan Nisa’ (yang telah dewasa dan menjadi guru PAUD di KB/TK Al-Izzah di kotanya). “Astaghfirullah, lagi-lagi aku membayangkan kenangan indah itu disaat murid-muridku melantunkan do’a untuk kedua orang tua” kata Nisa’ dalam hati. Sekilas Nisa’ pun  terbayang wajah sang Ayah dan Bundamya yang seringkali meneteskan airmata ketika mendengar lantunan do’a Nisa’ semasa kecilnya. Dan tak kuasa menahan tangis Sang Bunda yang usai berdo’a senantiasa mendekap hangat badan Nisa’. Teringatlah pula percakapan kala itu “Bunda, mengapa menangis. Nisa’ sayang Bunda” kata Nisa’. “Iya sayang, Bunda dan ayah juga sayang sekali sama Nisa’” tegas Bunda. Sang ayah tersenyum dan merangkul keduanya. Segera meyadarkan diri dari bayang-bayang kenangan terindahnya dan memfokuskan diri dengan apa yang ada di depan mata, murid-muridnya yang lucu-lucu dengan sikap anak sholeh (duduk bersila dan tangan mendekap menempel didada).
“Amiin. Subhanallah, berdo’anya khusyuk sekali. Sekarang ustadzah mau nanya, siapa yang rajin sholat dan mendo’akan kedua orang tuanya?” Tanya Nisa’ dengan senyum dua belas jari. “Saya.. saya..” lantang murid-murid TK Al-Izzah kelas Butterfly (Kelompok TK A) semua mengacungkan tangan. “Wahhh,, semuanya hebat. Alhamdulillah. Sayang, gambar apakah ini?” Tanya Nisa’ membawa gambar (seorang anak keil yang berdiri tegak diantara ayah dan ibunya). “Ayah, ibu, dan Ariij” kata salah satu siswi TK tersebut. Tak kalah siswa-siswi yang lainnya pun bersuara dengan jawaban yang hampir sama dengan menyebut anak kecil dalam gambar tersebut dengan nama mereka masing-masing. “Iya benar sekali sayang, gambar ini adalah gambar kalian dengan ayah dan bunda kalian. Tema pelajaran kali ini adalah tentang keluarga. Keluarga adalah orang-orang yang menyanyangi kita. Keluarga…….” Jelas Nisa’ kepada murid-muridnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
Teng.. teng.. teng… Bel berbunyi. Tanda waktunya pulang. Murid-murid KB/TK Al-Izzah bergegas pulang seusai berdo’a lalu berpamitan kepada ustadzahnya masing-masing. Dikelas butterfly, “Uszah” kata Ariij (tidak bisa mengucapkan ustadzah) mengagetkan Nisa’ dari belakang dan memeluk erat Nisa’. “Lho sayang, kok belum pulang? Sudah dijemput Bunda kah?” Tanya Nisa’. “Belom uszah, kata Ayah, Bunda Ariij gak ada disini. Bunda Ariij kerja jauh disana” Jawab Ariij lugu (tangannya menunjuk ke langit). “Astaghfirullah” kata Nisa’ dalam hati. Dia tidak mengetahui kalau Bunda Ariij telah meninggal karena Ariij murid pindahan dari TK Al-Irsyad yang masih beberapa minggu bergabung menjadi keluarga besar KB/TK Al-Izzah. Tetesan air mata membasahi pipi Nisa’ yang teringat Bundanya yang telah tiada semenjak Nisa’ berusia 7 tahun. Tiba-tiba Nisa’ memeluk Ariij dan berkata “Ariij sayang, jadilah anak yang sholeh yang patuh kepada Ayah ya sayang?” Pesan Nisa’ (kata-kata yang sering diucapkan oleh Bundanya) dengan bayangan wajah Bundanya yang terlintas dibenaknya. Beberapa menit kemudian, Ayah Ariij datang menjemputnya, Nisa’ melambai-lambaikan tangannya dengan tersenyum manis kepada Ariij.
Hari itu adalah hari yang penuh dengan luapan air mata. Nisa’ benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam kepada bundanya. Telah 15 tahun Nisa’ ditinggal Bundanya. Namun dia tetap bersyukur karena masih mempunyai Ayah yang sangat menyayanginya. Dibandingkan dengan Ariij, Nisa’ masih bisa merasakan belaian lembut kasih sayang sang Bunda. Bagi Nisa’ Bundanya adalah orang nomor satu yang luar biasa. Kasih sayangnya tiada tara dan abadi sepanjang masa. Melalui sikap pengorbanan dan kehangatan sang Bundalah kini Nisa’ menjadi seorang gadis dewasa yang sholehah dan menjadi Guru yang lemah lembut.



Komentar

Postingan Populer