Kala Mahabbah bermetamorfosa Mengharap Ridha-Nya
Di ujung senja merona,
matahari mulai bersembunyi di balik awan. Tampak jelas megha yang
kemerah-merahan bersuka cita menebar senyuman manisnya. Tak kalah awanpun
melambai-lambai kegirangan. Ehmtz,, Subhanallah betapa indah nan menawan. Tak
lama kemudian, terdengar gema cinta dari sang Maha Pencipta dari masjid agung
“Jamaluddin” di suatu perguruan tinggi terfavorit di kota Shina “Universitas
Ibnu-Khaldun” yang sering juga dipanggil UIK.
Alhamdulillah, tiba waktunya mendirikan sholat maghrib. Segeralah
mahasiswa-mahasiswa “Ibnu Khaldun” mengambil air penoreh cahaya syurga.
Subhanallah,,,
shaff masjid Jamaluddin UIK sangat rapi. Disudut pojok, di tengah, dan
disamping begitu rapat dan rapi, tidak seperti biasanya. Eh,, ada apa ya? Apa
mahasiswa-mahasiswa UIK mulai inshaf semua? Lho tapi kok terlihat wajah-wajah
baru ya… eh,, ternyata yang sedang khusyu’ shalat berjama’ah di masjid itu
adalah mahasiswa-mahasiswa baru UIK angkatan 2012. Dan tak ketinggalan para
panitia PESMABA juga ikut bergabung berlomba-lomba dalam kebajikan. Betapa
harumnya masjid tersebut karena dipenuhi aura-aura perindu syurga.
Usai
sholat berjama’ah, para mahasiswa baru dan para panitia PESMABA melangkahkan
kakinya menuju rumahnya masing-masing. Eitz, terlihat mahasiswa baru
berkerudung coklat dengan wajahnya yang imut itu berpapasan di tangga masjid dengan
salah satu cowok panitia PESMABA yang pernah dia jumpai saat agenda penggalian
potensi beberapa hari yang lalu. “Assalamu’alaikum dek…???” Sapa si cowok.
“Wa’alaikumsalam kak Maher”. Jawab si cewek imut (pipinya memerah). “Maaf
namanya adik siapa? Kakak lupa”. Tanya Maher. “Zahra kak.. Ehmtz, Zahra pulang
dulu ya kak? Assalamu’alaikum” Kata Zahra dengan terburu-buru.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya dik” Kata Maher sambil tersenyum manis. Tanpa berkata-kata Zahra menatap raut wajah
Maher lalu tersenyum sipu. Pertemuan yang tak bisa dilupakan bagi seorang Zahra
yang lugu. Diam-diam Zahra memendam rasa kepada Maher.
Hari demi hari silih
berganti, waktu demi waktu terus berotasi. Tibalah para mahasiswa baru menerima
permatakuliahan. Kelas baru, teman baru, dan guru baru yang lebih populer kita
sebut dengan dosen. Kala masuk hari efektif kuliah, wajihah-wajihah kampus
berjejeran dengan banner yang menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa yang
melewati stand-standnya tersebut di depan perpustakaan kampus. Tujuannya
membuka pendaftaran bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa lama yang jiwanya
belum bergabung dalam wajihah untuk direkrut menjadi kader dalam sebuah wajihah
tersebut.
Zahra yang baru turun
dari angkot, berjalan tegas melewati stand-stand wajihah tersebut. Tak
tengok-tengok, mata Zahra lurus kedepan dengan rasa cemas yang menyelinap
dihatinya. “Astaghirullah, sudah hampir telat ini. Padahal ini adalah mata
kuliah favoritku (Pengantar Pendidikan). Udah bapaknya killer lagi. Semoga
bapaknya belum datang”. Gemuruh Zahra dalam hati.
GKB 1 ruang 3.06
terlihat sebelah mata, teman-teman sekelas Zahra telah duduk rapi di bangku
masing-masing. “Huhftz, akhirnya sampai juga. Lho dosennya mana nhe?” kata
Zahra dalam hati. “Zahra, kok baru datang dosennya tadi marah-marah lho” Kata
Bunga, cewek usil di kelas Zahra. “Lho iya kah? Emang dosennya udah datang dari
tadi kah? Perasaan aku telatnya Cuma 5 menit lho…” Sahut Zahra dengan
kebingungan dan ketakutan. “Ha..ha..ha..ha..ha… Eh Zahra, kamu lugu banget ya
jadi anak. Si Bunga itu bercanda kali. Kamu ini kayak gak kenal Bunga saja.
Sudah berapa kali kamu dibohongin. Masih aja kena batunya. Ndak hafal-hafal ya
kamu sama sikapnya Bunga yang usil banget”. Terang Andita. Raut wajah Zahra
memerah dan tangannya menggaruk-garukkan kepalanya. “Lho kok gak marah Zahra?
Maafin aku ya? Makanya jadi anak itu jangan lugu-lugu banget nha…” Celoteh
Bunga. “Ngapain marah Bunga… akunya ja yang kurang sosialis jadi anak, sampai
belum paham dengan sikap teman-teman di kelas” Kata Zahra.
20
menit berlalu, teman-teman sekelas Zahra pada asyik ngobrol sendiri-sendiri,
nampaknya Zahra saja yang tak ikut gabung dengan mereka. Dia malah asyik
membuka-buka buku dan sesekali melihat jam tangannya. Rupanya Zahra sedang
asyik berharap-harap cemas menunggu kehadiran sang dosen Idolanya yaitu Bapak
Alfan. Tiba-tiba ketua tingkatnya, berdiri di depan kelas dan mengumumkan
bahwasanya Baak Alfan tidak bisa masuk dikarenakan masih ada agenda penting di
luar kampus. Teman-teman Zahra bersorak sorai dan langsung cabut dari ruangan
tersebut. Sedangkan Zahra terlihat kecewa, tapi langsung cerah wajahnya ketika
Nisa’ menginformasikan bahwasanya di depan perpustakaan ada stand
wajihah-wajihah kampus. “Kamu mau daftar kah Nis..?” Tanya Zahra. “Ndak dulu
Zahra, hari ini aku mau membeli buku Kimia an-organik. Hari lain saja ya? Aku
juga pengen aktif nhe dikampus biar gak kuliah pulang, kuliah pulang saja”
Jawab Nisa’. “Kalau kamu Andita? Ayo ikutan yuk,,,” Kata Zahra. “Ndak ah Zah,,
aku paling ogah ikut-ikutan yang begituan. Takut gak bisa bagi waktu dan nanti
ip q jelek lagi. Mungkin tahun depan saja lah.. lihat sikonnya hehe. Dan maaf
aku gak bisa nemenin kamu hari ini. Lagi gak enak badan nhe. Pengen istirahat
di kos” Kata Andita. “Ok..ok.. gak apa. Ya udah kamu istirahat yang cukup ya,
makan yang teratur karena kan jauh dari ortu kalau sakit ntar repot sendiri.
Kalau aku mah,, tiap hari ketemu ortu. Hehe” Ucap Zahra. “Siippp.. kalau gitu
kamu mau ke stand ma siapa?” Ujar Andita. “Eh, tapi aku jangan ditinggal Zahra.
Aku juga pengen lihat nhe” Sela Nisa’. “Sudah gak apa-apa aku ntar kesananya
sendirian saja. Tenang saja Nis, aku daftarnya barengan ma kamu ja. Tapi aku
mau lihat dulu wajihah-wajihahnya itu seperti apa biar gak salah pilih”. Tegas
Zahra. “Ok lah kalau gitu.. Kita pergi dulu ya? Assalamu’alaikum…” Kata Nisa’
dengan menggandeng tangan Andita. “Wa’alaikumsalam wr.wb” Jawab Zahra.
Ketiganya mulai meninggalkan ruangan dengan arah tujuan yang berbeda.
Rasa
penasaran Zahra makin memuncak, segeralah dia menuju stand wajihah-wajihah yang
ada di depan perpustakaan. Saat di depan aula BAU (Badan Administrasi Umum), Zahra
terkagetkan dengan seseorang yang menyebut namanya dari belakang langkahnya.
Ternyata Maher, kakak tingkat yang menjadi panitia PESMABA, pernah dia temui
saat penggalian potensi dan pernah juga bertemu di tangga masjid Jamaluddin
seusai sholat maghrib berjama’ah. Zahra memutar badannya 90 ° ke kanan. Raut wajah Zahra terlihat secerah
mentari, senyum manisnya strawberry, matanya berbinar-binar, jantungnya mulai
berdegup kencang, tangannya bergemetar, lalu dia menggerakkan rahangnya dan
berkata “Iya kak…” dengan nada selembut sutra. Meski begitu, Zahra mampu
membendung perasaan kasmarannya, dan mencoba tegas seolah-olah tidak ada
perasaan yang lebih untuk kakak tingkat yang dikaguminya dari awal pertemuan
mereka. Pertemuan mereka kali ini dilanjutkan dengan obrolan panjang dengan
berjalan bersama dengan jarak horizontal 100cm antara Zahra dengan Maher.
“Mau
kemana nhe..?” Tanya Maher.
“Mau
ke stand wajihah kampus yang ada di depan perpustakaan kak. Kalau kakak sendiri
mau kemana?” Jawab Zahra.
“Mau
ke masjid, ada agenda wajihah disana. Ehmtz, hendak ikut wajihah apa nhe?”
“Masih
kurang tahu juga kak, soalnya masih belum mengenal semua wajihahnya. Tapi
pengennya ikut Cendekia Muslim kak”.
“Lho
iya kah …? Kalau gitu bakal satu wajihah ma aku nhe. Bagus kok dek itu”
“Kalau
program-programnya seperti apa sih kak?”
“Ehmtz,,,
Cendekia Muslim itu bergerak dalam bidang keilmuan dan kerohanian. Disana kamu
belajar kepenulisan, penelitian, tadabur alam, tilawatil Qur’an, tafsir Qur’an
dan hadits, dan banyak hal yang bakal didapatkan deh dek… dijamin gak akan rugi
kok. Kalau pun tersesat, tersesat di jalan yang benar dek.. Tapi tenang saja,
insya’allah gak akan menyesatkan”.
“Oh
gitu ya kak, insya’allah sudah. Tapi Zahra masih pengen cari pandangan wajihah
yang lain juga”.
“Ok
dek,, yang jelas kalau mau bergabung dalam wajihah jangan terpaksa nanti gak
akan maksimal. Terus juga kalau mau ikut banyak wajihah, adik harus pintar
memanfaatkannya dan mengkulturnya jangan sampai hanya akan jadi titik-titik yang
tidak ada garisnya, jadi harus bisa menggabungkannya menjadi sebuah bentuk
linear yang sistematik”.
“Iya
kak,, siippp..”
Setiba di stand wajihah tersebut, Maher langsung pamitan
kepada Zahra. “Oh ya, udah di depan standnya nhe. Kamu Tanya-tanya aja ke kakak-kakaknya
itu. Kakak pergi dulu ya?”. “Iya kak, terimakasih” kata Zahra dengan penuh
kekaguman dengan petuah-petuah Maher. “Ok. Sama-sama”. Kata Maher serambi pergi
menuju masjid kampus.
Pertemuan kala itu
membuat Zahra makin mantap untuk ikut wajihah Cendekia Muslim. Dia tak ragu
lagi. Dia mengajak Nisa’ untuk mendaftarkan diri menjadi kader Cendekia Muslim.
Pengambilan formulir, perekrutan kader, dan diklat yang diadakan Cendekia
Muslim telah dia lalui. Zahra dan Nisa’ nampak aktif berwajihah dikesibukan
kuliahnya. Mereka berdua sangat solid sehingga saat dia berwajihah tidak sampai
mengganggu kuliahnya. Selalu beramar ma’ruf nahi munkar dan saling memotivasi
satu sama lain semakin menguatkan mereka menjadi seorang mahasiswa yang
berkepribadian baik dan berintegritas tinggi.
Ehmtz,, tapi
permasalahannya ada pada Zahra saat ini. Dengan bergabungnya dia menjadi
anggota keluarga Cendekia Muslim semakin seringlah pula pertemuannya dengan
Maher. Hal ini membuat perhatian Zahra, kalut, cemas, dan gelisah ketika
benih-benih cintanya kepada Maher itu mulai tumbuh dan bermetamorosa. “Ya
Robb.. aku ingin kau jaga perasaanku ini. Luruskanlah niatku bahwasanya aku
mencintainya karena-Mu. Bukan karena nafsu dan kebahagiaan semu. Dan aku tak
mampu memandang akhlaqnya yang begitu sempurna, tak mampu melihat tebaran
senyumnya kepadaku, tak mampu berdiskusi formal maupun non-formal dengannya.
Maka balutlah aku dengan iman dan taqwa kepada-Mu.
Ampunilah aku Ya Robb… perasaan ini telah aku
pupuk, seharusnya aku biarkan berlalu begitu saja. Aku memang telah salah
jalan. Haruskah aku berhenti dari wajihahku ini hanya untuk membendung cintaku
kepadanya, agar aku bisa mencintai-Mu sepenuhnya, berharap kasih putih suci-Mu
yang lebih aku butuhkan dalam hidupku ini… Ya Robb.. senantiasa balutlah aku
dengan rahmat-Mu, bimbinglah aku untuk senantiasa istiqomah berada di jalan
lurus-Mu. Amiin” Untaian do’a Zahra setiap kali hendak menghadiri agenda di
Cendekia Muslim.
Ternyata perasaan yang
menggelora di hati Zahra tidak hanya dirasakan oleh Zahra semata. Selama ini
Maher telah menyimpan rasa kepada Zahra. Bagi Maher, Zahra adalah sosok
perempuan yang tangguh, berakhlaq baik, dan mempunyai semangat yang luar biasa.
Dan tak ubahnya Zahra, Maher juga mengalami kegalauan dan gejolak batin dengan
Tuhan. Dia juga senantiasa berdo’a sebelum bertemu dengan Zahra dalam agenda
Cendekia Muslim.
Satu tahun saling
mengenal dan saling menyimpan rasa tak ada yang mengungkapkannya. Dua insan ini
mempunyai komitmen yang sama yakni berazam menjaga hijab untuk mendapatkan
ridha-Nya, dan karena komitmenya yang kuat, serta ke konsistenan merekalah yang
membuat mereka saling mencintai dalam diam. Mereka sangat yakin jika Allah
menjodohkan mereka, maka akan dipertemukan dalam suatu ikatan suci pada saat
yang tepat. Dan hanya do’a dan do’alah yang akan menyatukan hati mereka yang
mampu menebar harum semerbak mahabbah fillah.
.jpg)


Komentar
Posting Komentar